Tol Cipali

Dugaan Amblesnya Tol Cipali 2016, Karena Masalah Konstruksi

Bahu jalan ruas Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) pada tanggal 20 juni 2016 mengalami ambles di KM 103.400 jalur B arah Cirebon-Jakarta. Hal tersebut terjadi Setelah wilayah itu diguyur hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi setiap hari. Kondisi itu juga diperparah adanya aliran sungai di titik tersebut hingga mengakibatkan pergerakan tanah.

Sedangkan menurut Adrin tohari, peneliti longsor dari geoteknologi lembaga ilmu pengetahuan indonesia yang berada di Bandung. Kasus jalan tol ambles seperti yang terjadi di ruas Cikampek-Palimanan (Cipali) menunjukkan ada yang tidak tepat ketika proses pembangunannya. “Bukti konstruksinya ada yang tidak tepat,” sedangkan upaya perbaikan dengan menggunakan tiang pancang beton malah menambah beban biaya pemeliharaan.

Kondisi cuaca indonesia yang memiliki curah hujan tinggi menjadikan tanah lebih lunak, terlebih lagi umumnya jalan tol dibangun dengan menimbun lahan lunak bekas sawah, yang dikupas per satu meter kemudian dibuat timbunan badan jalan. “Tapi di dasar timbunan tidak ada perkuatan, saya yakin itu,” ujar adrin tohari kepada Tempo, Sabtu, 25 Juni 2016. Sedangkan di samping timbunan tersebut adalah lembah, seperti contoh kasus pada ruas jalan tol cipali.

Menurut Adrin, dalam proses pembangunan jalan tol memerlukan penguatan timbunan tanah dengan menggunakan material geotekstil. Bahan ini sudah sangat umum digunakan dalam pembangunan jalan. “Itu semacam material yang punya daya tarik tinggi yang membantu kekuatan lapisan tanah dasar di bawah timbunan,” jelasnya. Sehingga dapat berfungsi menahan timbunan tanah yang bergerak.

Material Geotextile sendiri memiliki bentuk seperti kain dari bahan plastik pada karung beras putih yang dianyam. Geotekstil memiliki kekuatan tarik yang tinggi. Dimana Kainnya dijahit sehingga tidak ada celah, sehingga bagian dasarnya punya kekuatan daya tahan tambahan. “Tiang pancang terhitung mahal dibanding pemasangan geotekstil,” menurut adrin tohari.

Analisa Adrin tohari selaras dengan penjelasan Hudaya Arryanto , Wakil Direktur Utama PT. Lintas Marga Sedaya, mengenai lamanya perbaikan bahu jalan tol Cipali yang ambles di kilometer 103+400 arah Cirebon-Jakarta pada 25 Mei 2016. Dari target 20 hari untuk perbaikannya menjadi lebih dari sebulan dikarenakan bagian kaki timbunan badan jalan tergerus luapan Sungai Cibening.

Adrin tohari sendiri pernah meneliti kasus longsornya  jalan tol Cipularang yaitu di kilometer 71 arah ke Bandung pada Maret 2014. Hal tersebut terjadi karena adanya aliran sungai yang airnya bisa berlimpah sehingga tidak semua masuk ke gorong-gorong. Air tersebut membuat tanah menjadi lunak, ditambah faktor curah hujan yang sedang tinggi, sehingga akhirnya menjadi longsor. Pada kasus tersebut pengelola jalan tol memberikan solusi dengan dengan pemasangan tiang-tiang beton pancang atau cor untuk memperkuat. Kasus itu kini terulang di jalan tol Cipali. “Sekarang banyak konstruksi jalan tol di Jawa dan Sumatera yang akan berhadapan dengan tanah lunak. Kalau tidak hati-hati, akan banyak terjadi longsor,” ujar adrin tohari.

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *